Jumat, 17 Januari 2025

FAKHRI AHMED ZAI

Lelaki berjambang berkulit sawo matang dengan tinggi badan 182cm berusia sekitar 25 tahun keturunan pakistan melayu sedang duduk didepan recepsionis sebelah kiri arah jam 10 dari ruang tunggu spesialis psikologi. Hari ini jadwalnya untuk asesmen dan evaluasi setelah 2 rangkaian tes yang telah ia selesaikan 2 bulan yang lalu. Dari tadi ia melihat gawainya untuk menemukan nomor identitas konsul yang ia lupa bawa di dompet. 

Ia memandangi foto rontgen thorax salah satu pasiennya 17 bulan yang lalu yang menjadi bahan diskusi hebatnya dengan spesialis radiologi. Senjata ampuhnya untuk mengalihkan perhatian dari segumpalan penyesalan 20 tahun yang lalu. Jam dinding diruangan ini ritmenya sangat nyaring membuatnya beberapa kali celingukan ke meja resepsionis yang barusan ia tinggalkan 12 menit lalu dan sekarang telah terisi oleh seorang perempuan memakai setelah hitam khas yaman seketika membawanya kepada kenangan manisnya di madinah hingga senyum simpul tidak sengaja terlukis di wajahnya. Perempuan ini memasuki ruang konsul 1 yang berarti pasien temanku. 

Tn. Fakhri A Zai silakan masuk ruang konsul 2 sambut seorang perawat dari depan pintu. Seketika gugup menjalar keseluruh batang tubuhnya dan tiba-tiba perut menjadi tidak karuan. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar