Perempuan berusia 33 tahun bekerja sebagai akuntan di Rumah sakit jiwa negeri. Setiap hari melihat pemandangan orang-orang tertawa tanpa alasan. Ia melakoni pekerjaannya sebagai pegawai negeri sipil sudah sekitar 6 tahun lebih di sebuah Rumah Sakit Jiwa milik Pemerintah Provinsi. Tiba saatnya Ia untuk menambah ilmu di perguruan tinggi di starata satu. Perkuliahan sarjana tentu saja tidak sama dengan perkuliahan diploma tiga yang dulu ia lewati. Tiap hari ia selalu dihantui pertanyaan “kapankah aku menikah?” Sudah sering ia mengikuti perkumpulan dan halaqah untuk membangun jinsi di pelataran masjid-masjid. Hatinya sudah diserahkan kepada Tuhan tentang nasib dan takdir dengan siapa kelak akan menikah. 8 tahun di bulan syawal yang lalu teman baiknya telah menemukan jodohnya tanpa pacaran seperti yang ia idam-idamkan dalam mimpi-mimpinya. Iapun semakin merasa terpacu juga gelisah. Suatu ketika ia berkata kepadaku “Aku ingin bertemu jodohku dengan wajah tanpa makeup” “Ketemu tidak sengaja disuatu tempat”.
5 menit lagi lafadz akad nikah calon suaminya diucapkan. Calon suami yang membuat Ia sedikit ragu setelah mengetahui masa lalunya sebagai pemabuk, pezina, dan menghamili perempuan lain. Ia adalah teman sekelasnya kelas 1 di bangku Sekolah Menengah Atas. Hatinya risau, teman-temannya hanya mengisyaratkan anggukan hambar.
Kabar yang ia dengar tepat 2 bulan sebelum hari H sudah diketahui teman-temannya. Sampai detik ini ia merasa tidak perlu mengkonfirmasi berita itu kepada calon suaminya namun berita itu selalu mengusik malam-malamnya. Terlintas dikepalanya tentang seorang duda yang naksir berat dengannya satu tahun yang lalu dan membanding-bandingkan dengan calonnya sekarang. Ia hanya diberitahu oleh calon suaminya jikalau dulu saat masa kelam pernah mencoba minuman alkohol. Ia tidak mengira seseorang memberitahukan berita benar itu. Seketika terlihat pipinya berwarna merah dan air mata mengucur. Sekali lagi teman-temannya hanya dapat menunduk dan mengangguk.